× Informasi Covid-19 di Indonesia 29/10/2020  
Connect with us

Opini

Menjadi Guru

Published

on

Menjadi Guru oleh Konselor and Trainer, Mea Suherman

Cita-cita tidak semuanya mulus dan menjadi kenyataan. Sewaktu kecil ada yang ingin jadi dr, ada yang ingin jadi TNI ataupun polisi, bahkan ada juga yang ingin menjadi seorang pilot agar bisa terbang di angkasa setiap saat. Itulah cita-cita dulu ketika kita di sekolah dasar sampai menengah atas atau kejuruan.

Cita-cita ada yang terwujud ada juga pekerjaan dan profesi yang tidak sesuai cita cita waktu dulu, seperti halnya “menjadi seorang guru”. Tiba tiba ketika tamat dari sekolah atas atau kejuruan langsung kuliah mengambil jurusan keguruan, karena dengan mengambil keguruan, emosi terjaga, psikologi terkelola, dan dengan mengambil jurusan guru adalah “guru sebagai tugas yang paling mulia”. Tidak hanya mulia di mata manusia, bisa juga mulia di mata Maha Pencipta.

Menjadi guru berarti kita terjun kepada sebuah tata kelola manajemen akhlak, manajemen psikologi, manajemen etika, manajemen spiritual, bahkan ketika kita meyakinkan diri kita masuk menjadi “bapak dan ibu guru ” kita sudah siap menata diri kita pada sebuah penjagaan yang disebut dengan “tata kelola emosi”.

Menjadi guru tentunya menjadi sesuatu yang patut ditiru, menjadi panutan suri tauladan bagi semua, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan, bahkan para siswanya di sekolah . Guru adalah sumber keyakinan bagi para siswanya, bahkan ia adalah seorang figur utama. Ucapanya, perbuatannya, tingkah lakunya, ibadahnya, semuanya menjadi penyambung agar orang lain bisa meniru baik tutur katanya, bahkan cara ia berbusana juga menjadi contoh bagi para siswanya.

Inilah yang menjadi fenomena di zaman sekarang ini, di mana hampir terjadi di berbagai sekolah maupun daerah masih dijumpai bapak ibu guru menangani permasalahan siswanya di sekolah masih menggunakan cara lama, di mana cara dulu dianggap baik, cara dulu dianggap cocok dan mujarab dalam mendidik para siswanya, tetapi di era sekarang ini pendidikan lebih mengedepankan contoh pigur, etika sopan santun, bahasa yang baik serta tidak banyak mengedepankan bahasa yang jelek dan kekerasan dalam bertindak.

Menjadi Guru tentunya kita masuk keranah ibadah, kita masuk ke lubang dan pintu keberkahan, mari kita dalami setiap permasalahan siswa sebagai permasalahan keluarga kita, mencari solusi yang terbaik bukan mencari emosi dan bukan mengembangkan emosi. Anak ( peserta didik ) sangat membutuhkan kasih sayang, cinta, teman, pendekatan dan kehangatan dalam penanganan permasalahan siswa.

Kita bukan hanya menempatkan sebagai guru, tetapi juga menempatkan lebih dari guru, yaitu menjadi kakak dan orang tua. Tentunya jika dalam penanganan oftimal, dalam penanganan dengan keilmuan bahkan didalamnya keilmuan bimbingan dan layanan, keilmuan psikologi, lebih lanjut seorang guru memahami dan mengamalkan keilmuan religius dalam pendekatan berbagai hal.

Menjadi guru, kita menjadi orang yang berilmu, berakal, dan berwibawa.

3,340 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Bagikan :

Tren