Connect with us

Sosok

Guru sebagai Pusat Perhatian

Published

on

Mea Suherman
Konselor and Trainer

Guru ketika tampil dihadapan penggemarnya dalam hal ini ( siswa ) disekolah, tentunya segala gerak gerik, ucapan, perbuatan, berpakaian, berjalan, semuanya yang berkenaan dengan guru , maka guru memimpin sekaligus menjadi contoh ( lead in the example ) bagi semuanya, selain sebagai guru tentunya menjadi pigur orang tua yang didambakan, orang tuanya yang di paforitkan ( di idolakan ) bagi komunitas dan bagi siapa saja yang bertemu denganya.

Menjadi guru merangkap jadi kakak, bahkan jadi bapak dan ibunya di sekolah, tentunya tidak semudah yang sampaikan di awal, kadangkala kita seorang guru belum bisa menyadari kita ini siapa ? Apa yang seharusnya dilakukan ? Dan dengan siapa kita sebenarnya berinteraksi ? Hal inilah yang menyebabkan kita dipanggil pak guru…hu guru…bahkan kita dipanggil Jang guru ( dalam bahasa Sunda ) sapaan penghargaan terhadap profesi yang paling mulia. Jarang orang yang cita-citanya ingin jadi guru, mereka ingin jadi dr, mereka ingin jadi insinyur bahkan kebanyakan mereka ingin menjadi TNI dan polisi. Itulah cita-cita yang selama ini tertancap pada benak kita ! Lalu kenapa kita tiba-tiba menjadi seorang guru ?
Sapaan guru adalah sapaan keramat, sapaan atau panggilan karena seseorang telah menjadi figur sekaligus contoh dalam lingkungannya ( lead in the example ) tidak semua profesi bisa dibanggakan, tetapi profesi guru bukan hanya jadi kebanggaan, tetapi lebih menitikberatkan kepada sebuah kebarokahan yang di harapkan sepenuhnya yang didapat. Fahala yang besar , sapaan yang sangat tajam, wibawa yang kuat..itulah guru.

Lalu sebetulnya bagaimana agar kita menjadi guru sekaligus menjadi pemimpin yang bisa memberikan contoh untuk mereka ?, Salah satunya kita harus memiliki beberapa hal :

1. Rubahlah kebiasaan menyuruh menjadi perilaku mari kita bersama-sama melakukan,
2. Pangkas kebiasaan ingin di hargai menjadi saling menghargai,
3. Jangan banyak memerintah, tetapi mari kita lakukan,
4. Berikan sapaan hangat kepada para semua siswa,
5. Jangan menunggu orang lain menyapa, tetapi kitalah memberanikan diri menyapa mereka,
6. Dekati para komunitas siswa dan ajak mengembangkan dirinya ( berikan penghargaan ),
7. Kita sebagai ( guru ) yang lebih dulu melakukan,
8. Berada paling depan dalam berbagai hal ( tidak banyak menggunakan telunjuk ), tetapi mulailah ( anak-anak beginilah caranya )
9. Tidak memberikan hukuman atau sangsi yang tidak sesuai terhadap pelanggaran perilaku siswa ( siswa telat masuk kelas berilah sangsi istighfar, mengakui kesalahannya, dan arahkan untuk melakukan perbuatan yang memiliki nilai keagamaan ( nilai religius )
10. Jauhkan dari kata – kata yang menjas ( kenapa kamu gak pernah berubah, dasar nakal )
11. Berikan panggilan yang adem dan menyejukkan
12. Ajaklah mereka berani menyampaikan permasalahan. Pribadi, keluarga bahkan permasalahan bersama temannya kepada guru, dan
13. Sempatkanlah waktu bapak ibu guru duduk santai dan akrab dengan mereka.

Jika kita sebagai guru setidaknya sudah bisa seperti poin-poin diri atas, maka kita akan menjadi guru yang yang unggul bahkan menjadi guru yang Budiman, guru yang dirindukan, guru yang dicintai bahkan akan menjadi guru yang mimpikan dalam tidurnya ( berbahagialah ) jika sudah seperti itu.
Guru akan menjadi pusat perhatian semuanya, bukan hanya bagi para siswanya, tetapi akan menjadi sumber inspiratif para rekan-rekan guru lainya. Jika sudah seperti itu, maka guru akan menjadi sumber dalam berbagai hal, tidak ada lagi pemberitaan dan informasi yang harus dicari, maka gurulah sumbernya ! Menarik bukan ?

Bahkan guru bisa menjadi sumber rujukan berbagai perilaku, akan menjadi suri tauladan yang baik bagi semuanya. Niat yang baik, upaya yang maksimal, mencintai terhadap profesi, tekun dan berinovatif. (Riyadi)

2,235 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Bagikan :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 2 =

Tren