Connect with us

Kegiatan

Exsotisme Celentung di Tengah Hot-nya Game Online

Published

on

GARUT, EKSKUL NEWS- Diera digital ini semua begitu mudah untuk didapat terutama hal yang bersifat menyenangkan salah satunya Game online yang sangat banyak disukai dan dimainkan oleh banyak anak sehingga kreatifitas anak tidak berkembang dan minat terhadap seni dan budayapun cenderung apatis hal itu diungkapkan oleh Ardyan seorang guru honorer disalah satu sekolah di Kecamatan Selaawi saat menyaksikan pagelaran seni Napak Jagat Pasundan, Sabtu (28/9/2019).

Lebih lanjut Adryan menuturkan hampir setiap tempat anak-anak nongkrong sudah dipastikan mereka sedang main bareng (mabar) game online hal tersebut menimbukan kekhwatiran akan penurunan kuwalitas pendidikan dan tumbuhnya sifat apatis/ acuh terhadap kondisi sosial dilingkungannya. Namun kekhwatiran itu sedikit terkikis dengan sekelompok remaja yang tergabung didalam komunitas musik Celentung Selaawi.

“Semoga dengan penampilan grup musik Celentung Selaawi yang begitu exsotis diacara pagelaran seni budaya Napak Jagat Pasundan menjadi insfirasi dan motivasi bagi remaja lainnya,” pungkasnya.

Risma Nur Hasanah siwa kelas 12 SMK PGRI Selaawi mengungkapkan rasa bangganya menjadi warga Kecamatan Selaawi karena memiliki alat tradisional sendiri (Celentung) kebanggaan tersebut sangatlah wajar karena tidak semua daerah memiliki alat musik sendiri.

” Sebagai putri daerah saya bangga dan berkewajiban untuk memperkenalkan Celentung keberbagai daerah dan kalangan,” ungkapnya.

Masih ditempat yang sama Sita kelas 12 SMK PGRI menuturkan dirinya tertarik untuk belajar dan bergabung dengan Grup Musik Celentung karena mudah memainkannya selain itu Celentung bisa dimainkan dimana saja dan dapat mengiringi berbagai lagu.

” Memainkan Celebtung jauh lebih mengasikan dibanding hotnya ma8n game online, lagu galau, lagu riang bisa diiringi Celentung,” ucapnya penuh rasa bangga.

Celentung adalah alat musik bambu dengan nada diatonis yang memiliki 7 nada jadi bisa memainkan berbagai lagu, alat musik tersebut asli dari Kecamatan Selaawi dan terbilang baru karena baru dikembangkan dan diperkenalkan pada tahun 2017 an oleh Camat Selaawi Ridwan Efendi S. STP, M. Si. (Bhegin).

849 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Bagikan :
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 1 =

Tren