Connect with us

Mading

Anthologi Puisi Vie Alkayish

Published

on

Janji Hati

Hari berlalu menepi setelah malam itu
Saat basah bersama tersiram air hujan yang mengiring
Langkah kita berdua
Saksi syahdunya malam
yang hangatkan suasana di tengah guyuran air hujan

Tertawa riang kapan bisa terlewati lagi
Pabila janji hati mengikat jarak hati kita
Semua terkikis tak berdaya
Meski kerinduan kian menggelora

Setia kan janji hati sejalan
Meski indahnya jauh dari jangkauan
Jangkar hati menangkap kedamaian
Perih pedih jika harus terpisahkan

Kilau permata tak seindah senyummu
Melekat erat dalam lubuk hatiku
Tiada yang mampu merenda sang waktu
Tujuan tetap pada permulaan dahulu

–Vie Alkayish–

*****

Munajat Hati

Ku belajar ikhlas dari ketidakrelaan
Ku berusaha tegar dari sisi kepahitan
Kusadari jalan searah tak setujuan
Meski hati saling bertautan

Ku mulai menepis perasaan dalam kekacauan
Dari kemelut sisi yang tertata di jiwa
Jika nanti berakhir pada yang tiada kita harap
Ikhlaslah yang harus menemani hari

Ku merindu tapi tak bertuan
Ku mengasih pada halaman orang
Hingga aku harus tersadar
hanya mampu memandang
tanpa mampu menjamah

Kurelakan meski hati teriris perih
Sesosok senyum semu yang menanti
Pada senja munajat hati terikrar
Apapun ku inilah kesungguhan

Jangan biarkan larut dalam kesanjungan
Yang menjatuhkan tanpa mau menantingnya
Pabila semua takdir jadi kenyataan
Ikhlas jua yang kan jadi penolongnya

–Vie Alkayish–

*****

Saatku Rasa

Hujan masih belum mereda
Rintik pun masih enggan berjauhan
Dengan hatiku yang dalam kesunyian
Dilanda badai tanpa tanda

Ku berlayar di lautan tidak bertepian
Entah berlabuh pada arah yang mana tak ketentuan
Sesekali dihempaskan ombak yang menerjang
Badai yang mengguncang
Hingga tak tentu arah pegangan

Di sini menanti dirimu datang kembali
Bersama bingkisan cinta suci yang kan abadi
Terpatri dalam relung hati
Ikat dalam do’aku sampai akhir hayat nanti

Ku yang terjatuh dalam kasih sayangmu
Tak bisa bangkit tanpa uluran tanganmu
Menggandeng mesra melangkah bersama
Menelusuri setiap lorong asmara

Suka duka pelengkap aroma
Akan indahnya cerita kita
Meski terkadang air mata menetes setia
Tak sedikitpun menggoyahkan rasa

–Vie Alkayish–

*****

Bingkisan Kalbu

Pagi menjelang dengan embun segarnya
Ramah sapanya hangatkan suasana
Yang nampak merona di ujung samudera
Menerpa rindu hanya lewat do’a

Ku kirim bingkisan rindu
Dalam syahdu kalbuku
Terbingkis bersama alunan merdu
Terlantun indah syair cinta untukmu

Jangan tanya mengapa ku bertahan
Pada titian jurang terjal sendirian
Kurasa engkau tahu sebuah jawaban
Kubelajar akan kesetiaan

Rimbun ilalang asaku bersembunyi
Menelisik sunyi pada ribuan janji
Tak satupun bisa terpatri
Bila rindu ada di kiloan ilusi

–Vie Alkayish–

*****

Menanti Pelangi

Hujan masih mengguyur deras
Pelataran masih basah kuyup
karena sapaannya hujan yang datang tiada henti
Tapi yakinlah hati bahwa hujan kan reda
pelangipun kan datang mewarnai indahnya cakrawala

Jangan menyerah saat langit-langit hatimu masih kelabu
Dibalut awan pekat yang membuat pandang mata memalingkan darimu

Ingatlah mendung tak berarti hujan
Dan hujan tak akan bertahan kekal
Dia datang hanya tuk menguji
Bagaimana hatimu ketika derasnya air membasahi setiap senyummu
Dingin menyelimuti kalbumu
Tapi hadiah terindah pelangi menanti kan menyapa penuh rona bahagia

Penantian ini tak akan sia sia
Jika sabar dalam meraihnya
Kukuhkan tekad dalam harap asa
Bahwa semua kan indah pada waktunya

–Vie Alkayish–

*****

Aku Bukan Permata

Sadari bahwa aku ini anak desa
Yang hidup di antara ilalang
yang menari gemulai tertiup angin senja
Berada di antara luasnya ladang nan mmbentang
Jadi aku adalah aku
Dan aku bukan permata yang berkilauan
di antara semua yang jadi perebutan

Aku hanya insan biasa yang datang membawa bingkisan salam
dan kan pergi melambai tangan

Aku bukan pahlawan yang jasanya bisa dikenang
Aku hanya ingin engkau tahu inilah aku
yang sayang tulus segenap jiwa ragaku

Aku hanya wanita yang berusaha menghiasi harimu
dengan aneka warna canda tawa
Dengan kehangatan gurauan keceriaan

Aku hanya wanita yang riangmu adalah impian indahku
Yang bahagiamu adalah denyut nadi cintaku

–Vie Alkayish–

*****

Goresan Hati

Keramahanmu melumpuhkan keangkuhanku
Kerasnya hatiku terlerai karena selalu terkikis oleh siraman kasih sayangmu

Sejalan langkah yang pernah kita canangkan
dalam wacana buku harian
Melewati indahnya temaram
Di senja syahdu di pelataran lembayung Bali
Seperti janji kita saat sunyi
hanya disaksikan bisikan sang bayu yang lembut
sayup berkeliaran menari di atas gurau candamu

Sepi sunyi kini karena jarak dan waktu
Menguji janji cinta suci kita
Terkadang lirih jeritan menghiasi asa
Karena cemburu kadang menghantui dalam setiap sunyiku
Meski gejolak batin menentang akan rasaku

Berlari ku tak mampu
Meski bunga hendak dilayukan kumbang dalam mekarnya
Terjaga selalu akan kuatnya cinta
karena elok paras mekarnya kan abadi tuk cintanya

Rintik hujan menemani
saat goresan tinta menari indah di atas kertas putih
Menuangkan segala rasa yang berkecamuk dalam dada
saat lelah mnghampiri
Saat tanya meliputi saat cemburu melanda hati
Tak ada yang mampu mengerti apa yang ku cari
Hanya satu yang pasti semua akan baik- baik saja saat ini

–Vie Alkayish–

*****

Pada Hatimu Kulabuhkan

Ku bagai nelayan yang berlayar di lautan luas
Terkadang terhempas badai
Terombang ambing diterjang ombak
Tak dapat bergerak cepat
karena hanya mampu mendayung
dengan sampan sederhana

Jauh kujangkau arah dermaga sejenak kulabuhkan harap hati
Bersandarkan jiwa dinaungi kedamaian nyata

Tapi tak tahu pasti di mana dan ke mana arah kudayung sampan kecilku
Agar ku tahu pasti ke mana pelabuhan terakhirku
Tiada kompas yang jelas kan tunjukkan arahku
Ku bingung di antara deburan ombak
Dan karang yang membisu hanya mampu melihatku
tiada mampu menuntunku ke arah dermaga hatiku

Dinginnya malam dalam gulita
Sendiri kunikmati tiada henti
Menyusuri setiap arah arus membawaku
Walau bergulir berpacu mengejar waktu

Ku diam bukan berarti ku tak berjuang
Kudekap selalu dalam harap di keheningan malamku
Agar segera ada arah yang pasti bisa aku tuju
Yaitu hatimu pelabuhan cinta terakhirku

–Vie Alkayish–

*****

Saat Terayun Rasa

Rasaku mengayun mengembara terbawa angin
Sendiri terombang-ambing dalam alunan sunyi
Seolah tiada tempat tuk bersembunyi
Dari kejaran bayang kisah silam

Kutelusuri lorong waktu
Tanpa kusadari kian menua diri terapuh
Dalam lekatnya malam ku bersimpuh
Muhasabah akan segala dosaku

Janjiku sematkan dalam kalbu
Membiru di antara coretan tinta sendu
Melukis kan setiap indah senyummu
Menguatkan langkah dalam juangku

Aksaraku tertulis dalam lembaran biru
Terangkum indah bait cerita cintaku
Yang tak pernah kuduga akan bertemu
Pada sesosok yang selalu tersebut dalam do’aku

–Vie Alkayish–

*****

Bayang Gurauan

Gelak canda tawa mewarnai hari kita
Entah siapa yang memulainya
Kian hari bergulir mesra
Tanpa pernah terpikir sebelumnya

Pikirku melayang jauh
Pada harapan yang tak mampu kurengkuh
Akan indah cerita cinta
Yang faktanya bayang gurauan semata

Hari berlalu waktu bergulir
Terlewati masa yang mengukir
Tajuk cerita yang tak bisa ditafsir
Takut akan rindu yang kan bergulir

Kususuri lorong sunyi
Bertanya dalam pekatnya malam
Mngapa rasa ini singgah di hati
Hingga mata tak mampu terpejam

–Vie Alkayish–

*****

Matahariku

Hadirnya dirimu dalam hidupku
Sangat berarti tiada bertepi
Kehampaan jiwa dalam perangkap dilema
Mematahkan asa cinta
Tapi semangat menggelora menyatu rasa
akan hadirnya dirimu di sudut hatiku

Puing puing cintaku
Yang telah hancur menjadi serpihan tak berwujud
Satukan kembali adanya niatan suci

Engkau matahariku
Penerang jiwa gulitaku
Yang telah lama beku bersama lukaku
Kini kau hangatkan kalbuku

Tertulis indah bait kata
Yang terangkum dalam jangkaran cinta
Membuatku terperangkap bahagia
Sucikan jadi tulusnya sebuah cinta
Yang bertahta indah mahligai asmara

–Vie Alkayish–

*****

Aku Lelah

Siapa aku siapa kamu
Terkadang tanya selalu bertemu
Tak satupun temukan jawaban akan sebuah keindahan

Janji suci engkau yang ternanti
Bersanding kekal abadi
Mungkinkah bisa ku tepati
Ketika lelah selalu menyertai

Bayangan tak nyata di sanubari
Senyummu yang terlintas di pelupuk mata
Ketika jauh tak dapat terengkuh dalam dekapan nyata
Hanya hembusan angin malam kutitipkan salam cinta untuknya

Terkadang letih lelah menyapa sukma
Ku sendiri dalam kesunyian jiwa
Kekosongan hati terisi tapi entah menepi

Tuhan…..
Genggamlah dia dalam mihrab-Mu
Agar kalbu tersirami cinta dan menanam benih di hatiku
Tuk bisa bersama sembah sujud dalam cinta abadi …..

–Vie Alkayish–

*****

Dalam Diammu

Sampai kapan sunyi tetap iringi
Setiap kerinduan yang terpatri
Tak dapat kupungkiri
Dalam diammu ada jeritan hati ini

Tertera dalam diary cinta
Yang tertulis indah bak cakrawala senja
Yang perlahan memudar menyambut datangnya gulita
Yang diwarnai kerlip bintang di angkasa

Dalam diammu sejarah kan tertulis
Tak akan terulang kisah yang mengikis
Nuraniku berontak berkatalah meski hanya sepatah
Tapi kusadari inilah keegoan diri
Yang hadir tanpa bisa memahami

Jagalah kesucian niat hati
Dalam suratan tlah terukir namamu di sanubari
Kekal tiada yang lain hanya dirimu satu yang pasti
Bersatu bergandeng tangan
Menyongsong indah masa depan
Mengarungi bahtera cinta bahagia

–Vie Alkayish–

*****

Terangkum Serpihan Hati

Inginku berlabuh di dermaga hatimu
Hingga bersandar selamanya
Setelah lelah terombang-ambing
Dalam samudera cinta berkecamuk riuh gelombang menerjang

Kini inginku damaikan jiwa
Merangkum serpihan hati
Menjadi keutuhan cinta abadi
Setelah lama kubalut luka

Kudengar percikan air
Tetesan embun seraya mengikuti
Segala jejak kisah yang mengalir
Mengikuti alur yang kulalui

Berdamai dengan alam
Menghirup segar angin menghembuskan
Akan nafas cinta yang bersemayam
Bahwa kamu dalam hatiku
Satu kekal dalam do’a suciku

–Vie Alkayish–

*****

Untaian Nada Sahabat

Engkau dan aku bagai mata dan kaki
Ketika kaki terluka engkau meneteskan air mata
Terbuai mimpi dalam selembar ilusi
Bahwa kebersamaan bukan ikatan hati

Perlahan engkau hadir
Menyapa dengan ramah sapa
Yang tak bisa ku lupa bahwa ada untaian nada persahabatan
yang selalu mengalun indah

Selaras notasi nada rasaku
Meski kalbuku menentang jangkauan lebih dari itu
Karena hakekat tak ijinkan lebih dari rasaku

Dia hadir menyatu sukma sebagai pelengkap jiwa
Tapi engkau sahabat yang tak akan ku lupa
Mski rengkuhan kata yang senantiasa tertata
Nasihat jiwa saling menuju kebaikan akan arti indahnya persahabatan

Jiwaku tertajuk bak embun pagi
Menyejukkan jiwa di hampaan ilusi
Tapi sekedar asaku meniti hati
Semua tak bisa aku pungkiri
bahwa yang di ujung lautan asmaraku tetap abadi

–Vie Alkayish–

*****

Seruan Di Tanah Tandus

Panas menerpa gelora yang meronta
Menyuarakan dalam gelombang bertepi
Tak dapat aku telusuri pijakan asa
Karena curamnya jurang yang mengitari

Ku melangkah tertatih dalam tajamnya duri
Yang menusuk tiada henti meski tak pasti
Ku coba merangkai arti dari perjlnan ini
Hingga sadarkan ku dari adanya mmpi

Jemariku tak mampu menghitung berapa lama
Waktu telah kuhabiskan bersama nya
Perjuangan yang mengenalkanku akan arti lara
arti kegagalan dalam keseorangan
Hingga terperangkap dalam pengap berkesendirian
dalam gulitanya rangkaian cobaan

Seruanku tiada didengar
Oleh mata tajam yang memandangku sebelah mata
Seolah ku makhluk yang kan segera binasa
meski semangatku kuatkan segala daya upaya

Kini perlahan seruanku menemukan arti
Di sela sudut kurangku ada ruang tuk tersinggahi
oleh mata tajam yang menatapku penuh arti
Bahwa hidupku belum berakhir
Hingga kebahagiaan kan jadi jawaban pasti

–Vie Alkayish–

*****

Kenangan

Malam ini ku hanya mampu terdiam
Tiada kata mampu terucap walau ingin kuteriakkan pada dunia
Aku rindu akan kenangan bersamamu
Bersama bercanda-ria menikmati cerahnya senja

Kini ku hanya mampu mengangankan
Engkau datang dengan hantaran indah senyuman
Membawa bingkisan syair cinta
Yang merdu menggelora di jiwa

Malam jadi saksi bisu
Di sini ku masih setia menunggu
Saat indah bersamamu
Merangkai mimpi mewujudkan pasti
Dalam mahligai indah surgawi
Kekal bak bidadari yang jadi insan bahagia sejati

–Vie Alkayish–

*****

Ajari Damai Hati

Hening malam ini diwarnai kunang-kunang berlari
Beterbangan dengan kerlip mengitari hati
Yang gelisah di ujung senja nan lalu
Tak tertepis akan sunyian hanya mmpu terdiam dalam harapan

Penantian mngajari arti sebuah kesabaran
Mengajari arti sebuah kedamaian dari hiruk pikuknya dunia fana
Yang tak dapat terpungkiri kian terhempas sang waktu
yang mengikis tanpa terasa

Sejauh janji mengikat dalam do’a
Ku yakin satu pasti terwujud nyata
Terdalam hati nan berharap di kesunyian dalam isak sujudku

Waktu damaikan kalbuku di sejuknya alam
Menerangi dengan sinar purnama
Mengagungkan setiap cinta
pada sang Maha Cinta pemilik hati yang bergelora

–Vie Alkayish–

*****

Sang Fajar Tersembunyi

Mentari menyingsing menyapa alam
Perlahan sang fajar bersembunyi
Menyiapkan diri meniti malam
Yang indah bertaburan bintang

Kelamnya lara tak akan jadi aral
Eloknya paras tak akan riuhkan sanjungan
Begitu satu kan jadi perjuangan
Itulah sejati dalam tabir kehidupan

Kumendekap janji alam
Angin yang menghantar sesajian kesejukan
Pada awan kusampaikan rasa kerinduan
Agar sang fajar menyapa penuh khangatan

–Vie Alkayish–

*****

Kusapa Sunyi

Denting gitar masih mengalun indah
Mengiring seirama nada mengumandang
Mengiring sunyi malam ini
Seolah menari di atas gusaran kepiluan

Terlukis jelas gambaran raut wajahmu
Tersenyum di antara gemerlap bintang
Ketika sunyi bendung hasrat kerinduan
Tak mampu menepis jalin rasaku

Sambut mentari pagi berlalu sang fajar
Begitu juga diriku hadir sisakan jejak kelamnya kisah lalu
Mengukir asa masa depan
meski kesunyian masih enggan pergi dari jiwa ini

Esok hari yang terindah tuk kita
Senyum tak mampu mengecoh kisah kita
Bahwa di balik senyum malu ada rindu
Yang bertaut pada kalbuku

–Vie Alkayish–

*****

Saat Setiaku

Kobar janji yang terpatri
Menyeruak langit dentuman bait do’aku
Mengarah satu tujuan pasti
Melangkah dalam setia cintaku

Kulari dari kejaran angin
Terselubung pun dapat tertemui
Inikah arti setia dalam jiwa ini
Selalu dalam langkah dan uji

Saat setiaku mengakar
Kuatkan cinta dalam genggaman
Pegang erat jemariku yang kekar
Jangan lepas dalam khayalan

Tautkan asaku dalam harapan
Pupuskan segala aral melintang
Menjadi sebuah arti kesetiaan
Dalam rinai hati nan riang

–Vie Alkayish–

*****

860 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Bagikan :
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − six =

Tren