Connect with us

Inovasi

Kepala Sekolah SMPN 1 Kadungora Budayakan Kesenian Tradisional

“Tahun ini kami menargetkan ekskul angklung, karena itu membudayakan kesenian daerah yang hampir punah di daerah-daerah, padahal itu kesenian khas Jawa Barat. Kami mengirim guru kesenian ke Saung Ujo untuk berlatih, alhamdulilah meskipun hanya sebentar, guru pembimbing atau pelatih kesenian angklung bisa menerapkan dan mengajarkan cara memainkan angklung kepada siswa yang ikut ekskul angklung, bahkan baru berlatih satu minggu, tim ekskul pelajar disini sudah bisa tampil pada perayaan hari besar di kecamatan,”

293 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Bagikan :

Published

on

GARUT, EKSKUL NEWS – Perjuangan menjadi kepala sekolah tidaklah mudah, selain harus memajukan mutu pendidikan, juga harus meningkatkan kualitas dan kuantitas pelajar dan guru yang ada di sekolah. Seperti disampaikan Kepala Sekolah SMPN 1 Kadungora Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut yang terus mencuri prestasi di semua bidang, kali ini menjadi juara sekolah sehat dan memiliki ekstrakurikuler angklung yang merupakan kesenian tradisional.

Sang penggagas program embun pagi ini pun bermimpi membudayakan kesenian tradisional, tergambarnya ketika bapak menteri kalau ada workshop ke Jakarta selalu menekankan kalau penguatan pendidikan karakter harus dari segala bidang, diantaranya melalui seni, maka ia berpikir kalau membudayakan seni daerah itu kalau tidak sama generasi sekarang sama siapa lagi akan dikembangkan, lalu ia buka-buka internet, pas kebetulan dari direktorat kementerian ada bantuan alat kesenian tradisional, akhirnya pada tahun 2017 mengajukan proposal langsung melalui pos, dan setelah proses lama, tiba-tiba ada dari direktorat melakukan survey, kalau SMPN 1 Kadungora akan menerima bantuan angklung.

“Alhamdulilah sudah dua kali SMPN 1 Kadungora menjadi juara tiga, karena kami terkendala keberadaan jamban (wc), dimana yang diharuskan aturannya dari 41 siswa satu jamban, namun masih bertahap kami membangun jamban, karena terkendala biaya untuk membangunnya,” tutur H. Koswara kepada Ekskul News di ruang kerjanya.

Ia mengumumkan kepada anak-anak, kalau jangan terfokus menjadi juara ke tiga sekolah sehat dari ke 365 SMP, tapi bagaimana kita membudayakan kebersihannya ini, ia tidak mau kalau setelah juara tapi setelah itu tidak diterapkan, jadi ia pun menyediakan tempat-tempat sampah agar siswa tidak membuang sampah sembarangan, karena pengontrolan selalu mendadak, jarang diberitahukan. Adapun untuk ekskul yang ada di SMPN 1 Kadungora hampir sama dengan sekolah yang lain, namun ia bermimpi ingin melestarikan kesenian budaya daerah yang mungkin hampir punah, yaitu angklung.

“Tahun ini kami menargetkan ekskul angklung, karena itu membudayakan kesenian daerah yang hampir punah di daerah-daerah, padahal itu kesenian khas Jawa Barat. Kami mengirim guru kesenian ke Saung Ujo untuk berlatih, alhamdulilah meskipun hanya sebentar, guru pembimbing atau pelatih kesenian angklung bisa menerapkan dan mengajarkan cara memainkan angklung kepada siswa yang ikut ekskul angklung, bahkan baru berlatih satu minggu, tim ekskul pelajar disini sudah bisa tampil pada perayaan hari besar di kecamatan,” jelasnya

Saat menyampaikan akan ada eksul angklung, ternyata siswa-siswi SMPN 1 Kadungora sangat antusias untuk mengikutinya. Ia pun bermimpi, pelatih dari Ssaung Udjo bisa hadir di sekolahnya.

“Kami bermimpi, suatu hari nanti pelatih dari Saung Udjo bisa hadir langsung ke SMPN 1 Kadungora untuk melihat hasil dari ilmu yang diberikan pelatih disana melalui guru kami dan diterapkan disekolah ini,” harapnya.

Di tempat yang sama, pembimbing ekstrakurikuler Agus cukup smart, karena dengan modal belajar satu hari, dirinya mampu menularkan dan melatih siswa-siswi di SMPN 1 Kadungora. Adanya keinginan dari kepala sekolah untuk membangkitkan kesenian angklung memang kendalanya adalah cara melatihnya, bahkan ia juga awalnya tidak bisa sama sekali melatih dan menyampaikan pelajaran seni angklung kepada siswa disini. Namun alhamdulilah setelah ia ikut belajar satu hari di Saung Ujo Bandung, hanya dengan satu hari, ia bisa mendidik dan mengajarkan cara memainkan angklung.

“Di angklung itu ada nomor 0 sampai 30, nah itu adalah not-notnya, jadi cara pembelajarannya dari nomor dulu, bukan dari notasi, dan alhamdulilah baru dua minggu saja kita latihan sudah bisa tampil,” jelas Agus.

Lanjutnya, saat ini dari ilmu yang ia dapatkan dari Saung Udjo yang dibilang singkat, ia berpikir ternyata mudah mengajarnya, tidak serumit apa yang ia bayangkan. Saat ini sedang dikolaborasikan dengan keyboard, karinding, dan alat tradisional lainnya. Dan dengan belajar satu bulan, anak-anak ekskul angklung sudah siap tampil, saat ini suka tampil di hari-hari besar.

Sebelumnya Agus tidak bisa sama sekali, jadi itu keistimewaan Saung Udjo, dalam jangka waktu satu hari belajar cara-cara menyampaikan ke siswa ternyata mudah, lalu ia terapkan ke siswa ternyata dalam beberapa kali pertemuan sudah bisa tampil. Intinya harus menguasai trik dan cara menyampaikan kepada anak.

“Kita yang harus tahu naik turunnya nada, jadi kalau anak itu lebih diutamakan mengetahui nomor dia sendiri, bukan notnya. Nah nati dikasih taunya nanti kalau sudah bisa, jadi anak belajar tidak dipusingkan dengan not,” jelas Agus.

Adapun keinginanya yaitu ingin tampil di Saung Udjo dulu karena disana dirinya menerima ilmu angklung, adapun target waktunya yaitu dalam jangka waktu enam bulan ingin tampil di Saung Udjo, ditempatnya angklung dimana dirinya menerima ilmu dalam mengajarkan disekolah, dan  ingin dinilai oleh Saung Udjo hasil dari ilmu yang diajarkan, karena disana bisa dilihat mana kekurangannya.

“Jadi untuk anak-anak disini bisa menyerap ilmu, sehingga ketika nanti keluar dari SMPN 1 Kadungora, anak didik punya ilmu dan bekal keahlian dalam seni dan budaya angklung,” tutup Agus, guru Kesenian dan Budaya SMPN 1 Kadungora.

Laporan : Suradi/Asep

Editor : MHT

294 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Bagikan :

Tren